Monday, 14 May 2018

Tujuh Alasan Wantenga Tidak Jadi Menikahi Siti Garaso



Cerpen Ragdi F. Daye

 

Sudah empat setengah jam Tanpena duduk bersitungkin menghadap laptop Axioo di depan hidungnya, tapi belum satu paragraf pun yang berhasil dia tulis. Padahal deadline tulisannya nanti malam. Pada saat kusut begitu, Jangkisuik masuk ke dalam ruang kerjanya dan langsung mengobok-obok isi lemari.

            “Kopimu tidak ada lagi, Tan?”

            “Ada tuh dalam stoples. Kemarin baru kubeli. Tak tampak oleh matamu?”

            “Oh iya, ini...” Jangkisuik kasak-kusuk membuka plastik kopi bermerek Timbangan Bunga yang diikat dengan karet, lalu memasukkan bubuk hitam harum itu satu setengah sendok ke dalam mug putih hadiah susu, menambahkan dua setengah sendok gula pasir, menuangkan air panas dari termos, mengaduk-aduk, lalu duduk di sisi tempat tidur sambil menyeruput sedikit. Panas. “Wantenga tidak jadi menikahi Siti Garaso,” ujarnya.

            Tanpena bergeming. Apa pentingnya? Dia sedang berjibaku membuat opini sepanjang tiga-empat halaman tentang gagasan membangun kota sesuai pesanan kandidat pemimpin daerah yang memakai jasanya sebagai ghost writer. Kabar yang disampaikan Jangkisuik sama sekali tidak relevan dengan pekerjaannya.

            “Hei Tuan Pengarang! Kamu tidak mendengarku? Wantenga dan Siti Garaso tidak jadi menikah!”

            “Terus apa masalahnya? Biasa saja ‘kan orang di sini tak jadi menikah.”

            “Jelas beda! Ini Wantenga. Kau tahu sendiri ‘kan bagaimana dia sudah berkoar ke mana-mana akan menikahi Siti Garaso. Tanggal dan hari juga sudah dapat. Undangan sudah disebar. Kenapa bisa tidak jadi?”

            “Memangnya kau tahu alasannya?”

            “Ada tujuh!”

            “Tujuh alasan? Seperti judul artikel di Google saja: Tujuh Alasan Wantenga tidak jadi menikahi Siti Garaso. Hahaha...!” Tanpena mengambil alih gelas kopi di tangan Jangkisuik. Meneguknya. “Coba ceritakan!”

***

            Pertama, Jangkisuik memulai, bulu ketiak Siti Garaso seperti ijuk di batang enau. Lebat. Hitam. Kasar.

            Tanpena tak bisa menahan tawa. Dia membayangkan Siti Garaso duduk di atas Astrea bulan warna merah sambil memeluk pinggang Wantenga. Rambut-rambut hitam kasar menjulur dari ketiaknya seperti ijuk di pelepah batang enau. Alangkah menggelikannya ada perempuan setidak bersih itu. Tapi eh tapi, bukankah Siti Garaso mengenakan kerudung? Bukankah Siti Garaso selalu menutup aurat? Mengapa Wantenga bisa tahu?

            Wantenga telah mengintip Siti Garaso sedang mandi, ya?

            Hahaha... Mengintip Siti mandi? Hmm, ya tidaklah. Mengintip memang iya. Lebih tepatnya stalking-stalking, kata anak muda sekarang. Wantenga telah sering mengintip akun Instagram @sitygara50 milik Siti Garaso. Galeri fotonya bagus-bagus dengan latar pemandangan  Sumatera Barat yang indah-indah. Ada foto Siti duduk termenung di Jembatan Kelok 9, foto selfie Siti di Jam Gadang, foto Siti dan kawan-kawan makan langkitang di taplaw, foto Siti mengantar uwak pergi naik haji di BIM, foto Siti ala-ala anak daro di Istano Basa Pagaruyuang, foto Siti di depan poster film yang sedang tayang di XXI, dan yang terakhir, yang membuat Wantenga patah selera, foto Siti sedang berbaring rebahan di Pulau Sirandah bak bule dari Eropa, berbusana minim hingga bulu ketiaknya terlihat menjulur seperti sulur-sulur rumput laut.

            Wantenga memang tidak rajin salat. Tapi dia ingin punya istri shalehah. Memajang foto yang mengumbar aurat adalah alasan kedua Wantenga tidak jadi menikahi Siti Garaso.

            “Alasan kedua ini aku sepakat,” tanggap Tanpena. “Aku juga begitu. Apabila keluar rumah, istriku nanti juga harus menutup tubuhnya rapat-rapat, kalau perlu pakai cadar. Tapi pas di rumah bolehlah seksi-seksi. Hahaa…”

            “Semua laki-laki pasti inginnya seperti itu…”

            “Ya iyalah… masak kecantikan istri jadi konsumsi umum.” Tanpena mengeluarkan kacang Surian dari laci meja. “Alasan ketiga apa?”

            “Ada susu?”

            “Sudah minum susu pula kau sekarang hah?”

            Jangkisuik membuat kopi segelas lagi. Kali ini ditambah susu. Sebelum dia sempat menikmati, Tanpena mengambil jatah duluan. Seteguk.

***

            Kata Jangkisuik, Wantenga suka Siti Garoso sejak gadis itu pulang merantau dari Batam. Sebelumnya Siti tampak biasa-biasa saja dengan nilai rata-rata enam setengah. Tapi sepulang dari rantau yang gagal, dia bekerja di plaza dan wajahnya jadi lebih cantik karena setiap hari di-make up. Wantenga langsung terpesona. Tepat pula waktu itu dia baru ditinggal nikah oleh Pitkajai pacarnya yang menjadi artis orgen tunggal. Hati Wantenga langsung hinggap pada Siti Garoso yang dari menara Masjid Raya Sumbar terlihat mirip benar dengan Shireen Sungkar.

            Wantenga ingin menikahi gadis itu. Tapi, tapi oh tapi tidak jadi. Inilah alasan ketiga.

            Wantenga pernah membawa Siti Garoso duduk-duduk makan pisang bakar di Jembatan Siti Nurbaya sepulang dari tempat kerjanya. Riasan wajahnya belum dihapus sehingga tetap terlihat cantik. Mereka memesan pisang bakar dan teh botol. Lampu-lampu jembatan membuat suasana jadi sangat romantis. Mereka pun foto berdua. Bercanda mesra. Lalu makan, suap-suapan, dan …

            Puuut…!

            “Kentutnya keras sekali sampai-sampai uni tukang jual pisang bakar melihat dan cekikikan. Betapa malunya aku. Bau kentutnya juga tak tanggung-tanggung pula.” Sesal Wantenga pada Jangkisuik. “Aku tidak suka perempuan pengentut. Apalagi di tempat ramai. Bagaimana kalau dia terkentut sekeras itu lagi di tempat baralek?”

“Kentut ‘kan bisa ditahan, Wan, atau dikeluarkan pelan-pelan. Masak karena itu saja kau tak jadi menikahinya?”

“Terkentut di tempat ramai berarti tidak beradab. Jika di rumah sendiri tak apalah.” sungut Wantenga. “Masih ada yang lain. Dia terlalu kasar pada anak kecil dan suka angkek-angkek stang, suka membantah. Belum menikah saja dia sudah berani mengeluarkan kata-kata. Bisa-bisa bersarang sepatuku di mulutnya.”

“Itu artinya dia bersikap apa adanya, Wan, tidak munafik, tidak berpura-pura.”

“Tidak suka berpura-pura atau tidak punya etika?”

“Kau harus juga melihat dari sudut pandangnya; Mungkin dia tak sengaja kentut karena masuk angin dan sudah menahan-nahan sejak dari tempat kerja, coba kaubayangkan betapa tersiksanya menahan-nahan kentut sampai sakit perut. Terus dia kasar kepada anak kecil katamu; kalau anak kecil itu memang nakal kurang ajar bikin kesal bagaimana? Tentang angkek-angkek stang, ini zaman emansipasi, Bro, laki-laki dan perempuan sudah setara, kau tak bisa otoriter padanya, mengatur ini-itu dan dia harus patuh. Tentu dia melawan.”

“Ah! Pokoknya aku tidak suka. Satu lagi, dia pernah dilarikan orang halus!”

“Dilarikan orang halus?”

“Waktu SD dia pernah hilang dari rumah dan dua hari kemudian ditemukan di rumpun bambu dekat kuburan. Katanya, dia juga sering kesurupan. Artinya, ada yang tidak beres dalam dirinya.”

***

Tanpena melempar kulit kacang. “Alasannya terlalu dicari-cari. Tak ada orang yang sempurna. Harusnya kekurangan-kekurangan itu diperbaiki bersama. Itulah gunanya manusia diciptakan berpasang-pasangan agar saling melengkapi.”

“Tapi mau bagaimana lagi, Wantenga sudah memutuskan untuk tidak jadi menikahi Siti Garaso. Kita bisa apa?” tukas Jangkisuik. “Atau kau mau menggantikan Wantenga?”

“Menggantikan untuk menikahi Siti? Owayai, memangnya tak ada lagi perempuan lain sehingga aku harus menikah dengan Siti Garaso?”

“Hahaha! Masalahnya apa? Dia ‘kan cantik dan belum jadi istri orang.”

“Bukan itu..”

“Masalah kekurangan dia tadi? E, cimporong! Bukannya kau bilang tak ada manusia yang sempurna?”

“Aku belum siap untuk menikah. Pekerjaanku belum jelas. Penghasilanku belum tentu.” Tanpena meringis. “Soal tujuh keburukan Siti yang tidak bisa diterima Wantenga tadi, kalau bagiku pribadi masih bisa kompromi. Setahuku Siti itu baik. Eh, bukannya baru enam?”

“Benar kau mau kompromi?”

“Bila aku sudah siap untuk menikah, ya mengapa tidak.”

“Kau mau menerima apa adanya? Kasihan keluarganya, undangan sudah disebar…”

Tanpena mengangkat bahu sambil menaikkan alis. “Mungkin.”

“Alasan ketujuh Wantenga tidak jadi menikahi Siti Garaso adalah karena gendang sudah pecah.”[]

 

Padang—Solok, 2018

Ragdi F. Daye berasal dari Solok, Sumatera Barat. Buku kumpulan cerpennya yang sudah terbit Perempuan Bawang dan Lelaki Kayu (2010) dan Rumah yang Menggigil (2016).

cerpen ini telah dimuat koran Singgalang edisi Minggu, 29 April 2018 (http://eroseutica.blogspot.co.id/2018/05/tujuh-alasan-wantenga-tidak-jadi.html) 

Monday, 2 April 2018

Dakwah Kreatif


Acara NGODE "Digitalisasi Media Dakwah" oleh MDC Chapter Padang, Rabu, 28 Maret 2018 di Dilo Padang

MDC, Moslem Designer Community berawal di Solo tahun 2013. "Dakwah tak harus ceramah" merupakan tagline MDC. Dakwah zaman ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan IT dan gadget dengan kecanggihan media sosial.

Syafira Anissa, perwakilan Dilo Padang mengungkapkan Dilo adalah creative camp untuk anak muda yg ingin menggeluti dunia digital kreatif. Fasilitas yang tersedia di Dilo berpa Coworking space, meeting room, dan class room  yang sangan representatif untuk pelatihan--interior ruangannya juga sangat instagramable! Dilo sangat vocok untuk generasi milenial yang menggemari desain dan konten kreatif.


Rio Hafandi; alumni teknik elektro Unand, menulis buku Dakwah Kreatif ala LDK.

Obrolan NGODE berlangsung renyah.
Iqbal Lupi, alumni DKV FBS UNP, yang pernah membuat film dakwah berjudul "Bukan karena Dia" berpendapat bahwa dakwah nonverbal kepada khalayak melalui media audiovisual sangat efektif sekarang. Sebab orang-orang telah menaruh dunia dalam genggaman, melaui smartphone. Iqbal telah mempublikasi karya videonya di Channel Youtube dengan salah satu episode Rohis is Solution.

Mugikun, seorang freelance desain kreatif mengungkapkan kegelisahannya tentang presentasi ADK (aktivis dakwah kampus) yang sering tidak kreatif dan belum menggunakan desain kreatif. Itulah motivasinya mengembangkan dakwah dengan desain kreatif. Namun katanya saat ini desain LDK sudah mulai berkembang meski masih meniru yg sudah ada, belum benar-benar keluar dr zona nyaman.

Rio Hafandi, alumnus Teknik Unand yang telah menulis buku "Dakwah Kreatif ala ADK" menyampaikan perlunya revolusi media sosialisasi dan publikasi dakwah. ADK mesti menawarkan konten yang tidak membosankan. Aktivis dakwah  perlu mempertimbangkan juga selera kekinian.

Strategi yang ditawarkannya adalah terlebih dahulu buat medianya disukai oleh target, baru kemudian masukkan pesan. Nanti secara tanpa sadar orang yang tidak suka dengan pesan tersebut ikut menikmati dan menerima apa yang kita sampaikan.

Rio menambahkan, dalam karya kita ada campur tangan Allah. Ide berasal dari-Nya. Mintalah melalui tahajjud sebagai upaya pencarian ide, lalu sampaikan dengan cara yang efektif. Tidak mesti populis. [Ade Efdira]

SEHAT DENGAN CERDIK!




Sekitar 1 dari 3 anak balita Indonesia mengalami stunting. 

Stunting dan gizi buruk telah menjadi isu kesehatan penting pada beberapa tahun terakhir ini. Terutama setelah mencuatnya kasus anak-anak yang menderita gizi buruk di Asmat, Papua, disiarkan media. Bagaimana tidak heboh, Papua yang selama ini selalu terekspos dengan keindahan alam bak surga di Raja Ampat dan tambang emas Freeport yang sangat kaya, tapi ada sejumlah warga kelaparan. Bak anak ayam mati di lumbung. 

Perhatian publik terhadap kedua isu ini menjadi meningkat. Masalah stunting dan gizi ramai dibicarakan. Termasuk juga di dalam acara Temu Blogger Kesehatan Sumatera Barat di Pangeran Beach Hotel Padang, Kamis 22 Maret 2018 silam. 

Dengan suasana santai tapi serius, masalah kesehatan ini dibahas oleh sejumlah narasumber kompeten dari Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Dinas Kesehatan Kota Padang, dan praktisi kesehatan. Agar pembahasan sampai ke masyarakat, reporter dari berbagai media juga turut hadir untuk memberitakan. Didukung oleh 30 orang blogger Sumatera Barat, acara ini sukses menjadi trending topic di media sosial Twitter dengan hashtag #PanganSehatGiziBaik.http://eroseutica.blogspot.co.id/2018/04/sehat-dengan-cerdik.html


Apa itu Stunting?

Stunting adalah masalah kekurangan gizi yang menyebabkan tinggi tubuh anak tidak berkembang secara normal. Kekurangan gizi ini terjadi selama seribu hari pertama kehidupan yang dimulai sejak janin dalam kandungan. Stunting mengakibatkan tubuh anak menjadi pendek disertai hambatan produktivitas dan kecerdasan intelektual.

Meskipun sama-sama berkenaan dengan masalah gizi, stunting berbeda dengan gizi buruk. Indikator stunting adalah perkembangan tinggi badan (indikator kronik). Tubuh anak yang menderita stunting lebih pendek daripada rekan sebayanya yang memiliki tinggi sesuai dengan perkembangan usia semestinya. Sedangkan gizi buruk berhubungan dengan perkembangan berat badan yang ideal sesuai perkembangan usia (indikator akut). 

Menurut Kabid. Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, dr. Achmad Mardanus, M.Kes, penanganan masalah stunting yang dilakukan oleh Pemerintah adalah dalam bentuk intervensi promotif-preventif dan kuratif-rehabilitatif. Upaya ini ditekankan pada perhatian optimal terhadap seribu hari pertama kehidupan seorang anak. 

Upaya preventif yang dilakukan berupa penyuluhan tentang kesehatan reproduksi dan pemberian imunisasi untuk remaja dan calon pengantin. Upaya kuratif dalam bentuk pemantauan kesehatan dan asupan gizi sejak ibu hamil, melahirkan, menyusui, hingga pertumbuhan dan perkembangan bayi menjadi balita. 






Mewujudkan Indonesia Sehat

Disampaikan oleh Inspektur Jenderal Kementerian Kesehatan, drg. Oscar Primadi, MPH, derajat kesehatan masyarakat ditentukan oleh faktor lingkungan fisik, kimia, biologi, dan ergonomi (40%), faktor sosio-budaya masyarakat (30%), fasilitas layanan kesehatan, seperti ketersediaan air bersih yang sangat minim (20%), dan faktor genetika atau keturunan (10%).

Program penangan  permasalahan kesehatan berpedoman pada Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). GERMAS adalah suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan, dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. 

GERMAS dilaksanakan dalam bentuk peningkatan aktivitas fisik, peningkatan perilaku hidup sehat, penyediaan pangan sehat dan percepatan perbaikan gizi, peningkatan pencegahan dan deteksi dini penyakit, peningkatan kualitas lingkungan, peningkatan edukasi hidup sehat. Tujuan yang hendak dicapai gerakan ini dituangkan dalam slogan “Saya sehat, keluarga saya sehat, negara kuat!”


Sehat dengan CERDIK

Gaya hidup sehat dapat dilakukan dengan langkah “CERDIK.” CERDIK adalah akronim dari slogan kesehatan Kementerian Kesehatan RI yang setiap hurufnya bermakna. Kepanjangan dari CERDIK adalah Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat yang cukup, dan Kelola stres. 

Mengenai gaya hidup sehat melalui Diet Sehat dengan Kalori Seimbang dipaparkan oleh pakar gizi dr. Tan Shot Yen. Pada dasarnya, makhluk hidup makan untuk bertahan hidup, termasuk kita manusia. Hanya saja, sering manusia makan bukan karena kebutuhan hidup, melainkan karena gaya hidup. Mengonsumsi makanan tertentu bukan karena tubuh membutuhkan kandungan nutrisi di dalamnya, melainkan karena didorong rasa suka, ikut-ikutan tren, atau mewarisi persepsi pola makan yang keliru. Tren ini termasuk diet ala-ala yang belum terbukti kebenaranya secara ilmiah.




Dokter Tan mengungkapkan tentang pentingnya mengonsumsi buah dan sayur untuk kesehatan tubuh. Selain itu variasi menu makanan yang sehat. Indonesia memiliki sumber pangan melimpah, tapi kita belum memanfaatkanya dengan cara yang tepat. Orang sakit tidak selalu karena makanannya tidak sehat, tetapi lebih disebabkan kesalahan komposisi jenis makanan dan pengaturan jadwal memakannya. Aneka makanan padang yang bersantan sebenarnya tidak menyebabkan penyakit bila diselingi dengan sayur dan makanan lain yang tak berlemak.

Pengaturan ‘piring makan’ juga penting. Jangan di dalam piring makan kita 90% berisi nasi atau karbohidrat. Nasi cukup seperempat piring lalu dilengkapi dengan lauk dan sayuran. Kuncinya adalah


“Makan apa yang dibutuhkan tubuh, bukan apa yang diinginkan selera kita.”



Itulah sehat yang cerdik! [Ade Efdira]